Pelita Hidup Jangkau Dunia

Sudahkah Kita Mengalami Kasih Allah Secara Pribadi?

Sumber: Google

Sumber: Google

Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.” Efesus 3:16-17

Bacaan ; Efesus 3: 14-19
*courtesy of PelitaHidup.com
 Alkitab mengatakan bahwa Allah mengasihi kita dan pengorbanan Kristus di kayu salib membuktikan betapa besar kasihNya kepada kita, umat manusia. Sayangnya, hal ini hanya merupakan sebuah kebenaran intelektual saja bagi hampir sebagian besar umat percaya, karena nyatanya, tidak semua kita dapat mengalami dan merasakan sendiri kasih Allah tersebut dalam hidup kita masing-masing.  Masalahnya tentu saja bukan terletak pada Allah, tetapi terletak pada kemampuan masing-masing kita sebagai individu untuk merasakan kasih dan kepedulianNya pada kita.

Salah satu halangan yang menjadi tolok ukur kita dalam mengukur kasih Allah dalam hidup kita adalah membandingkan kasihNya dengan keadaan hidup kita. Ketika Bapa di Surga mengijinkan kita mengalami tragedi, luka hati, masalah dan masa sukar dalam hidup kita, sebagian besar dari kita sebagai umat percaya akan serta merta berpikir bahwa Allah tidak mengasihi kita. Pertanyaan usang yang selalu ditanyakan oleh umat manusia yaitu “Bagaimana mungkin Allah yang penuh kasih mengijinkan tragedi, luka hati, masalah dan masa sukar terjadi padaku atau pada orang-orang yang kukasihi?” kini benar-benar menjadi pertanyaan kita pribadi. Kita tidak pernah sepenuhnya mengerti jalan pikiran Allah, tetapi kita dapat belajar untuk tahu dan mengenali bahwa kasih sayang dan perhatianNya jauh lebih besar dari semua penderitaan yang ada di seluruh dunia. Dan pada waktuNya, Ia akan menjadikan segala sesuatunya indah dan benar sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

Merasa diri tidak layak juga dapat menjadi penghalang kita dalam menerima dan mengalami kasih Allah. Memusatkan perhatian pada dosa dan kegagalan moral masa lalu atau membandingkan diri dengan orang lain akan membawa kita kepada rasa bersalah dan keputusasaan. Iblis memang memiliki keahlian khusus dalam bidang ini; yaitu mendorong hati seseorang untuk merasa dan berpikir bahwa mereka tidak layak, tidak ada artinya serta mengutuki diri sendiri.  Allah tidak pernah berkata kepada kita, “Kamu harus benar dulu baru Aku dapat mengasihimu.” Ingat bahwa kasih Ilahi yang kudus didasarkan pada karakter Allah yaitu kasih, bukan karena apa yang sudah kita lakukan



Rasa tidak percaya atau keraguan kita adalah akar dari semua halangan dalam mengalami kasih Allah. Ketika kita menyangkal kasih dan perhatianNya pada kita, maka sejatinya kita sedang meragukan kebenaran firman Allah yang tertulis di dalam Alkitab.

Allah ingin agar setiap kita mengalami kasihNya yang luar biasa secara pribadi dan intim. Jangan biarkan kehobongan Iblis atau kesukaran hidup mencuri sukacita dan keamanan dari berkat yang luar biasa ini. Ketika Anda merasa ragu akan kehadiran dan kasih Allah dalam hidup Anda, mari berkaca kembali kepada kebenaran firman Allah.  Percaya kepada setiap firman yang sudah Allah katakan dan pada akhirnya Anda akan dapat merasakan kasihNya yang tak terbatas itu secara pribadi dan lebih dalam.
*courtesy of PelitaHidup.com
 

Terima ayat Alkitab melalui Facebook. Ayo gabung dengan lebih dari 54.000 member di Facebook Page Pelita Hidup. Klik like berikut ini:

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.” Efesus 3:18
*courtesy of PelitaHidup.com
 

Sumber: intouchdotorg

 


Team PH
Team PH_Tulisan ini dipersiapkan oleh Team Pelita Hidup.

Pelita Hidup Jangkau Dunia

Terima update renungan baru via email:

Masukkan Respon Anda



Tidak menemukan topik yang Anda cari? Ketik kata kunci yang Anda cari dan tekan Enter: