Pelita Hidup Jangkau Dunia

Merasa Takut Pada Saat Yang Tidak Semestinya

Sumber: Google

Sumber: Google

“Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: “Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.” Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” I Raja 19:1-4

Biasanya kita merasa takut ketika kita mengalami kegagalan. Kita cenderung merasa takut ketika kita mengalami kemunduran dan merasa diri kita kurang, atau kita akan tergetar karena rasa takut ketika kita melakukan suatu kesalahan besar dan percaya bahwa semua alasan yang kita berikan tidak akan mampu menghapuskan kesalahan tersebut. Pada saat-saat itulah sebagian besar dari kita akan merasa bahwa kita sedang diserang oleh rasa takut.
*courtesy of PelitaHidup.com
Kita mendapati situasi yang sangat berbeda dalam I Raja 18 dimana Elia mengalami kemenangan yang paling dramatis yang ada di Alkitab. Dengan hanya bersenjatakan imannya kepada Allah yang tidak tergoyahkan, Elia menghadapi 850 nabi Baal dari para penyembah berhala di tempat tersebut. Allah dengan Maha Kuasa memporak- porandakan para pemyembah berhala tersebut dan menyatakan kemenanganNya di seluruh tanah Israel. Kejadian tersebut merupakan sebuah kemenangan yang luar biasa!
Tetapi, hanya sesaat setelah peristiwa luar biasa tersebut, pada saat seharusya iman Elia berada di puncaknya, justru Elia merasa takut. Dalam ayat di atas disebutkan bahwa nabi Elia mendengar kabar bahwa ratu Isebel menginginkan kematiannya. Demi mengetahui kabar tersebut, Elia melarikan diri dan dengan mudahnya melupakan kemenangan luar biasa yang Tuhan nyatakan melalui hidupnya beberapa saat sebelumnya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?

Kisah Elia ini mengingatkan kita bahwa kekurangan dan kesalahan kita mungkin bukan merupakan bahaya terbesar yang mengancam pertumbuhan rohani kita; ancaman terbesar justru tersembunyi di balik sukses dan keberhasilan yang telah kita capai. Ketika kita berada di puncak keberhasilan tersebut, rasa percaya diri kita sedang berada di puncaknya, yang seringkali membawa kita untuk berpaling dari Tuhan yang memberi kemenangan tersebut kepada kita dan memberi kekuatan yang kita butuhkan. Pada saat itu kita mulai mengandalkan diri sendiri.

Kemenangan Anda selalu berada di tangan Tuhan. Jangan pernah terkecoh dan dibodohi oleh Iblis dan ego Anda. Tuhan memang melakukan segala sesuatunya melalui kehidupan Anda untuk mencapai tujuan yang sudah Ia rencanakan, tetapi, Anda harus selalu ingat bahwa kemenangan itu tetap milik Tuhan. Pernahkah Anda merasa teralihkan oleh kemenangan yang telah Anda raih? Berbalik kembali kepada Allah. Segala puji dan hormat hanya bagiNya. Dengan demikian ketakutan tidak akan menimpa Anda dan saya.



“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.” 2Tim1:7

 
*courtesy of PelitaHidup.com
 

Terima ayat Alkitab melalui Facebook. Ayo gabung dengan lebih dari 54.000 member di Facebook Page Pelita Hidup. Klik like berikut ini:

Sumber: intouchdotorg


Team PH
Team PH_Tulisan ini dipersiapkan oleh Team Pelita Hidup.

Pelita Hidup Jangkau Dunia

Terima update renungan baru via email:

Respon: 1 respon

  1. terima kasih buat Firman Tuhan yang mengajarkan bahwa kemenangan berada ditangan Tuhan

Masukkan Respon Anda



Tidak menemukan topik yang Anda cari? Ketik kata kunci yang Anda cari dan tekan Enter: