Pelita Hidup Jangkau Dunia

Siapkah Kita “Dihancurkan” Sesuai Dengan Prinsip Allah?

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia akan tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Yohanes 12:24-25

Kehancuran membuat hati kita terluka dan sebagian besar dari kita pasti tidak mau mengalami luka apapun dalam hidup ini. Namun sejatinya, justru pada masa-masa berat tersebut, Tuhan seringkali melakukan karya terbesarnya dalam hidup kita. Ia membentuk kita kembali, membawa kita kembali ke jalur yang benar sesuai dengan rencanNya dan semua itu dilakukanNya agar rencana ilahiNya dapat terpenuhi dalam hidup masing-masing kita.

Tuhan Yesus dengan sangat indah menjelaskan prinsip dihancurkan ini dalam nats tersebut di atas, dimana Ia mengumpamakan hidup kita sebagai  sebuah biji gandum. Jika kita hanya menggemgam sebuah benih di tangan kita, maka tidak akan terjadi apa-apa. Jika kita menyimpan benih tersebut secara hati-hati di dalam  sebuah toples atau diletakkan di atas rak agar aman, benih tersebut akan tetap berada di tempat itu. Benih tersebut tidak akan berguna sama sekali jika kita menjaganya dalam keadaan aman seperti tindakan tersebut di atas.
*courtesy of PelitaHidup.com
Akan tetapi, jika benih tersebut ditanam di dalam tanah sehingga lapisan pelindungnya terlepas, maka sesuatu yang ajaib  terjadi. Beberapa waktu kemudian, sebuah tunas kecil akan muncul dari dalam tanah dan mulai tumbuh menjadi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang jauh lebih bermanfaat dan indah. Apalagi ketika batangnya mulai besar dan menghasilkan lebih banyak benih untuk ditanam dimana hasil dari tanaman baru tersebut batangnya juga menghasilkan benih yang dapat ditanam kembali dan seterusnya. Ini merupakan sebuah rantai kehidupan yang menakjubkan dimana  sebuah benih gandum dapat berbuah menjadi banyak sekali pohon gandum. Tetapi semuanya itu harus dimulai dari satu butir benih gandum yang dihancurkan dan bahkan mati.

Tuhan Yesus tidak hanya menyampaikan perumpamaan ini kepada murid-muridNya dan kepada Anda dan saya, tetapi Ia telah melalui dan mengalami sendiri serta memberikan teladan bagi kita arti dari dihancurkan menurut prinsip Allah tersebut. Dengan mengorbankan DiriNya, Ia dihancurkan dan ditanam di dalam tanah. Dari kehancuran tersebut muncul kehidupan baru bagi kita semua yang percaya kepadaNya. Dari satu “benih” tumbuh orang-orang percaya baru yang jumlahnya tak terbatas, masing-masing dengan hidup baru mereka.

Apakah Anda sedang merasa hancur hari-hari ini? Jika jawabannya adalah ‘ya’, ingatlah akan prinsip dari benih yang dihancurkan ini. Allah tidak  sedang meninggalkan Anda, tetapi Ia sedang membawa Anda dan saya menuju ke sebuah era pertumbuhan rohani yang radikal. Ia pasti memberikan perlindungan dan kekuatan kepada masing-masing kita untuk melaluinya ketika kita mau berserah sepenuhnya kepada rencana dan kehendakNya yang sempurna.



 

 
*courtesy of PelitaHidup.com
Sumber:intouchdotorg


Team PH
Team PH_Tulisan ini dipersiapkan oleh Team Pelita Hidup.

Pelita Hidup Jangkau Dunia

Terima update renungan baru via email:

Respon: 1 respon

  1. sebagai orang percaya siap tdk siap kita harus siap utk di hancurkn sesuai prinsip Alllah krn itu yg akn membentuk karakter kita sbg anak2Nya sebab Allah akn menhajar kpd barangsiapa yg dianggapnya anak krn DIA sngt mngasihi ank2Nya…jd siap selalu utk bentuk sesuai prinsipNya

Masukkan Respon Anda



Tidak menemukan topik yang Anda cari? Ketik kata kunci yang Anda cari dan tekan Enter: